Tuesday, 10 February 2015

Titi Hijau Hijau Wisata Bakau Kuala Langsa



Ransel Ijo +62 – Kamis, 5 Februari 2015 gw berkesempatan buat kembali mengunjungi kota Langsa JPeole. Dan ini adalah kali pertama gw ke Langsa untuk edisi tahun 2015. Kali ini gw bakalan nunjukin ke loe semua sebuah objek wisata lama tapi baru di kota Langsa. Penasaran ??? sama. Gw juga.
Jadi gini sob, beberapa hari sebelumnya temen – temen facebook gw pada sibuk upload foto di salah satu spot wisata yang ada di Kawasan Pelabuhan Kuala Langsa. Dari beberapa foto yang gw lihat ada yang menampilkan pemandangan berupa bentangan jembatan bewarna hijau muda yang cukup panjang. Dan terdapat didalam Kawasan Wisata Hutan Bakau Kuala Langsa. Ada yang berkomentar kalo jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Aceh.
Layout Plant Titi Hijau Kuala Langsa

Titi Hijau di pintu masuknya

Reruntuhan batu yang melekat pada dinding Titi Hijau

Si monyet yang bikin kami menunggu untuk bisa naik ke Menara
Dari Layout Plant yang terpajang di pintu masuk jembatan atau Titi Hijau ini terlihat jelas bahwa jembatan ini nantinya akan dibangun didalam area HutanBakau Kuala Langsa dengan dilengkapi beberapa fasilitas pendukung. Seperti Gazebo, Toilet Umum, Tempat Makan , Home Stay, dsb. Semuanya dibangun untuk mendukung spot ini menjadi tempat wisata terbaik di kota Langsa dan mungkin juga di Aceh.
Pertama tiba di Kawasan Pelabuhan Kuala Langsa gw sempat bingung dimana letak pintu masuk dari Titi Hijau sob. Karena yang gw tahu memang titi gitu didalam Hutan Bakau Kuala Langsa. Itu pun terbuat dari kayu dan papan yang dijadikan tempat bersantai bagi para pengunjung yang datang. Setelah menyusuri jalan dan lihat sana sini akhirnya gak sengaja gw lewat depan rumahmu ngelihat disisi sebelah kiri jalan ada sebuah jembatan panjang bewarna hijau kayak yang gw lihat di facebooknya temen gw. Gak salah lagi ini dia jodoh Titi Hijau yang gw cari. Oh ya diperjalanan ini gw gak sendiri. masih bareng travelmate baru gw yang sebelumnya bikin gw panik di Trip Medan  City Tour 2 edisi 2015. Siapa lagi kalau bukan si Siti Hajar.  Kita pun langsung turun dan memarkirkan kendaraan didepannya. Tampak ada 3 ABG laki – laki berpakaian pramuka tengah duduk ddidepannya. Ternyata mereka juga mau mengunjungi spot wisata Titi Hijau Kuala Langsa yang lagi booming ini sob. Bersama mereka gw dan Siti Hajar masuk kedalam area Hutan Bakau Kuala Langsa. Saat itu masih pagi , palingan masih pukul 9.45 WIB. Tadinya gw pikir ke 3 ABG laki – laki ini lagi bolos sekolah dan main ke Kuala Langsa. Tapi sepengakuan mereka sebenarnya mereka gak bolos. Tapi kebetulan disekolah mereka tuh lagi ada acara Maulid Nabi jadi gak ada kegiatan belajar. Makanya mereka langsung cap cus main ke Kuala Langsa. Gw harap mereka gak bohong ya. Ingat ya buat loe yang masih berstatus pelajar jangan coba – coba bolos sekolah. Anak cerdas itu gak ada waktu buat bolos sekolah. REMEMBER THAT !!!
Sepinya jembatan pagi itu

Reruntuhan batu yang bercampur dengan akar bakau dan sampah

2 ekor monyet yang berada tak jauh dari kami

Ibal dan Samir yang tengah memanjat menara

Bentangan Titi Hijau didalam area hutan bakau
Kita berlima pun masuk ke dalam area hutan bakau. Menyusuri lintasan Titi Hijau diantara lebatnya pohon bakau yang tumbuh diantara sisi – sisi jembatan ini. Lebar jembatan ini sendiri gak lebih dari gak lebih dari 1 meter deh kayaknya. Sementara untuk panjangnya gw kurang tahu sob. Mungkin ada lebih kurang 1 km, itu masih panjang jembatan yang udah jadi aja sob. Soalnya ditiap lintasan jembatan ini ini selalu gw temukan cabang yang menyisakan kawat – kawat yang masih belum selesai pengerjaannya. Karena sebenarnya jembatan ini juga belum selesai secara keseluruhan seperti yang terdapat pada denah Layout Plant Titi Hijau di pintu masuk sob. Catnya aja masih baru dan karena jembatan ini belum selesai pengerjaannya makanya jembatan ini belum punya nama. Jadi gw sapa jembatan ini dengan Titi Hijau. Bagian akhir dari jembatan ini sendiri juga masih buntu. Jadi kalo jalan terus sampai kedalam hutan loe bakalan nemuin ujung jembatan yang buntu alias masih gantung pengerjaannya itu sob. Jembatan ini dibangun diantara pepohonan bakau dengan lintasan mendatar dan berkelok – kelok dibeberapa sisinya. sepintas Titi Hijau mirip banget sama Hutan BNI yang ada di Banda Aceh
Dan untuk kembali lagi dari ujung titi yang buntu maka kita harus kembali lagi menyusuri lintasan yang sama untuk mencapai pintu masuknya. Kalo diukur sih kita udah jalan 1 km lebih pulang balik. Jadi lah buat olah raga ^_^  

Coretan dipintu masuk menara

Pemandangan dari atas menara

2 pengunjung lainnya terlihat dari atas

Titi Hijau yang melingkar seperti ular
Ketika kami berlima menyusuri jembatan hijau ini, gerakan kami selalu diawasi oleh 1 sampai 3 monyet. Sebelum masuk juga kami udah diperingatin buat selalu waspada sama nih monyet – monyet yang menghuni Hutan Bakau Kuala Langsa. Mata mereka selalu tertuju pada yang kami bawa bawa sob. 500 meter pertama kami nyantai aja jalannya. Beberapa meter kemudian langkah kami harus terhenti dan terpaksa menghadap ke sisi salah satu jembatan seolah – olah tengah melihat pemandangan sekitar hutan. Padahal sebenarnya kami lagi berdiam diri dan tidak bertindak yang aneh – aneh agar gak memancing perhatian sekawanan monyet yang berusaha mendekati kami. Salah satu monyet perlahan mulai mengintai tas salah satu dari kami berlima. Ini lah yang bikin seru dari wisata Ransel Ijo +62 kali ini sob. Harus berhadapan langsung sama monyet liar langsung di habitatnya.  Dan kami semua harus berusaha sampai di ujung jembatan dengan selamat tanpa harus battle sama sekawanan monyet yang jumlahnya banyak buanget sob.
Sungai di depan bawah menara

Coretan 1 di tiang menara

Coretan 2 di kayu menara

Coretan 3 di atas menara
Semakin jauh kami berjalan memasuki hutan, semakin banyak aja monyet yang berusaha mendekati kami. 3 ABG yang semuanya punyaa titit ini pun mulai ketakutan. Apalagi gw dan Siti Hajar. Kami pun kembali pasang aksi diam cakep + nyantai menghadap salah satu sisi jembatan. Memandangi alur sungai yang berliku. Sambil sesekali diantara kami saling berbisik tanpa saling berhadapan satu sama lain. Gw juga mengingatkan buat gak bersuara keras apalagi berusaha melepas tas kami. Aksi diam yang penuh dengan ketegangan ini belum selesai sampai disitu. Dari jauh perlahan tapi pasti. 3 ekor monyet berbadan besar tampak sedang berjalan ke arah kami sambil terus mengawasi. Pelan – pelan salah satu dari kami pun berbisik kalo jumlah monyet yang datang makin banyak. Gak bisa dihitung sob. Semua monyet dari berbagai ukuran lengkap ngumpul disitu. Mulai dari yang kecil sampe yang segede bagong juga ada. Dari yang sudah berkeluarga sampai yang belum berkeluarga juga ada. Makin lama mereka bergerak mendekati kami yang udah gemeteran sejak kemunculan mereka. Seekor monyet berbadan cukup gede kini tepat berada dibelakang gw. Gw nyadar kalo gw jomblo tapi bukan ini yang gw mau sob. Beberapa ekor monyet berbadan sedang pun berdiri 30 cm dari tempat Siti Hajar berdiri. Sisanya mulai bergerak lagi ke arah 3 ABG , Ibal, Samir dan Irfan. Hampir 30 menit kita mogok makan jalan hanya untuk menghindari interaksi berbahaya dengan monyet – monyet liar ini. loe bayangin aja sob. Ditengah hutan bakau, gw + 3 ABG laki – laki + seorang travelmate baru Cuma bisa diem – dieman dan bisik – bisik tetangga. Yang terdengar hanya suara sekawanan monyet yang saling bersahut – sahutan satu sama lain. Dan itu Cuma Siti Hajar yang tahu terjemahannya. Gak jauh dari tempat kami sedang berdiam diri ini tampak sebuah menara pemantau yang menjadi tujuan inti dari ketiga ABG tadi. Menurut mereka, dari menara pemantau itulah kita bisa melihat keindahan Hutan Bakau Kuala Langsa ini sob. Dengan udah terlihatnya menara tersebut itu menandakan bahwa kami udah dekat dengan ujung dari jembatan atau Titi Hijau ini. Lama banget kita diem – dieman berlima gitu sob. Mana kaki udah pegel banget. Kalo bukan karena hewan yang kita hadapi ini monyet liar pasti kita udah nangkring di atas menara sejak 1 jam yang lalu. Alhamdulillah banget sejauh ini tas kami masih aman. Belum ada tanda – tanda bakal ada perampasan tas oleh monyet – monyet yang berada di dekat kami.

Reruntuhan batu Titi Hijau

Kawat besi sisa pengerjaan Titi Hijau yang belum selesai

Titi Hijau yang masih terlalu muda untuk dirusak

Penampakan monyet diluar Titi Hijau

Si adek penjaga parkir yang menghalau monyet - monyet
Seiring berjalannya waktu, satu per satu dari kawanan monyet itu pun berlalu meninggalkan kami. Berangsur – angsur mereka menghilang ke dalam hutan bakau. Kami pun bergegas melanjutkan perjalanan dengan langkah cepat. Dan tiba dengan selamat di menara pemantau. Kalo gw perhatiin menara ini tingginya tuh hampir sama dengan tinggi bangunan ruko 2 lantai. Letaknya sendiri gak jauh dari ujung jembatan buntu yang belum siap pengerjaannya. Lokasinya berada persis di sisi sebelah kanan dari jembatan hijau ini sob. Keseluruhan dari menara ini terbuat dari kayu. Sebagiannya terbuat dari besi. Itu pun hanya bagian dari pondasi penyangga menaranya aja.
Dan disini kami menguji keberanian kami berlima untuk memanjat menara ini sampai ke puncaknya. Tapi lagi – lagi kami harus berhadapan dengan kawanan monyet. Lagi ??? ya lagi sob. Seekor monyet tampak tengah bersantai dibagian tengah menara. Kami gak mau ambil resiko dengan memanjat menara dan battle ama tuh monyet diatasnya. Sembari menunggu si monyet pergi kami pun kembali berdiam diri. Lagi – lagi Cuma bisa diam sambil ngedumel ngelihat monyet – monyet yang hilir mudik mendekati kami yang kayak patung – patungnya Madame Tussaud Singapore. Gak lama setelah itu si monyet udah pergi dari menara. Dan pemanjatan pun diterukan. Dimulai oleh Ibal dan Samir. Lalu di ikuti oleh Sit Hajar dan gw. Serta yang terakhir memanjat adalah Irfan. Menara ini sebenarnya cukup berbahaya untuk dipanjat khususnya buat cewek. Bahkan gw saranin buat loe cewek – cewek yang datang kesini buat gak naik ke menara ini. Gak tahu apa ada cewek sebelum gw dan Siti Hajar yang manjat nih menara. Kita berdua manjat karena kita emang suka tantangan. Siti Hajar yang pake rok aja bela – belain buat manjat sambil sesekali benerin roknya yang terinjek pas ditangga. Jujur gw gemeteran pas naiknya sob. Asli tinggi banget. Yang gw takutin adalah Siti Hajar gak sanggup manjat dengan kondisi berat badanya yang sehat itu. Kalo berani manjat nih menara terus jatuh maka nyawa taruhannya. Jadi plis buat loe yang baca postingan ini dan loe adalah cewek, gw saranin buat gak manjat ke atas menara Titi Hijau ini. gw dan Siti Hajar manjat nih menara bukan buat sok hebat tapi emang karena kita punya nyali yang cukup besar saat itu. Sebelum naik pun kita berdua udah siap dengan resiko terjatuh pas naik maupun turun dari menara disaksiin sama 3 ABG kota Langsa. DANGEROUS !!!!  BERBAHAYA. JANGAN DITIRU YA !!!! Terutama buat loe yang takut ama ketinggian. Yang menarik dari menara ini adalah begitu gw dan yang lainnya udah nyampe diatasnya. Kami semua tuh terpukau ama view Hutan Bakau Kuala Langsa yang luas buanget. Berdampingan sama sungai – sungai yang berkelok – kelok. Kalo kata temen gw sih kayak hutan amazon gitu. Dan yang bikin cantik tuh bentangan Titi Hijaunya itu mengingatkan gw sama bentangan tembok Cina.

Tapi ada 1 yang gak gw suka pas nyampe diatasya. Lagi – lagi gw nemuin coretan didinding bahkan sampe ke langit – langit dan atap menara. Dari banyaknya coretan udah jelas banget kalo menara ini udah banyak dinaikin sama orang – orang. Belum juga siap jadi tempat wisata yang utuh sesuai Layout Plantnya tapi udah ada aja tangan – tangan jahil yang coret sana sini. Gak Cuma itu sob, kerusakan fisik juga terlihat dari dinding jembatan ditiap sisinya yang jebol karena batu – batunya berjatuhan ke akar – akar bakau.
Sampai disini gw belum puas sob. Mungkin tahun depan Titi Hijau ini udah rampung pengerjaannya. Moga aja Titi Hijau ini jadi spot wisata andalan yang gak Cuma meriah di awalnya aja ya. Dan gw berharap kelak pemerintah kota Langsa dan juga kita orang Indonesia bisa lebih membudayakan diri sendiri untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan di tempat wisata dimana pun itu. Khusus untuk Titi HijauKuala Langsa, moga aja para pengunjungnya gak resek lagi ngerusakin spot wisata menarik ini. sayangkan jembatan bagus – bagus dibangun buat Cuma dirusakin?? 

2 comments:

  1. Semoga terus dirawat dan dipelihara ya, ademnya punya public space yang bisa jadi tempat relaksasi dan mencari ide kreatif... Uraiannya lengkap dan foto-fotonya wonderful...

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks ya Azhar......
      kebiasaan anak muda gak bisa lihat tempat wisata bagus selalu tangannya jahil jadi gimana mau awet kan

      Delete