Sunday, 6 December 2015

Terdampar di Bandar Tasik Selatan



RanselIjo +62  Singapura memberikan banyak kesan khususnya untuk gw pribadi. Gw sedikit banyaknya memperlajari kehidupan sosial masyarakatnya selama 3 hari menjadi Singaporean bersama Richa, Emma & Mentary. Masih pukul 3 pagi ketika kami tiba di Terminal Berpadu Selatan Malaysia. Intinya kami udah di Malaysia lagi. Di pagi buta itu , Sabtu 10 Oktober 2015 kami terdampar disana. Setelah malam sebelumnya kami melewati malam yang panjang dengan mengantri di Imigrasi Sultan Iskandar Muda Johor Bahru. Lalu bergumul dengan ratusan orang mengantri untuk bisa sampai ke Terminal Larkin. Dan menyambung perjalanan dengan menumpang bus tingkat 2 Causeway Link seharga 34 Ringgit. Dengan kondisi lelah gw berupaya ekstra keras membawa team untuk melewati beberapa calo tiket yang mencoba menghentikan langkah kami. Menarik perhatian kami agar mau membeli tiket dari tangan mereka. Tapi gw gak tergoda soalnya dari yang gw baca di blog para backpacker bahwa jangan coba beli tiket dari calo – calo itu. Langsung beli di konternya karena disana tercatat jelas nomer bus, jadwal berangkat dan yang pasti harganya gak semahal yang kita beli dari calo. 4 tiket udah didapat. Dan kami dapet 4 kursi nyaman yang ada ditingkat 2 bus. Gw akui bus ini super nyaman dan eksklusif banget. Lebar kursinya emang didesign khusus untuk mereka yang melakukan perjalanan jauh dan butuh istirahat dengan nyaman. Bus melaju meninggalkan Terminal Larkin. Dan kami pun bisa melanjutkan tidur yang terputus sejak dari Johor Bahru. Gak lama terdengar suara membangunkan gw. Itu Mentary. Ternyata kami udah sampe. Tapi gak tahu sampe mana. Pas kami turun kami ikuti kemana arah panah. Sebuah gedung besar dan luas dengan banyak tanda penunjuk arah yang membingungkan. Dimana lagi ini ???
Bus Causeway Link tingkat 2 yang kami tumpangi menuju Bandar Tasik Selatan


Suasana subuh di Bandar Tasik Selatan


Spot tidur para calon penumpang di Bandar Tasik Selatan


Seven Eleven yang buka 24 jam


Masih dini hari dan ke empat anak perempuan asal Indonesia ini harus kembali meraba di pagi dingin ini. Tangga escalator yang mengarah ke atas kami ikuti sampe gw menemukan bacaan Terminal Bandar Tasik Selatan . ini dia terminal yang banyak dibicarakan para backpacker di internet. Lelahnya yang merajai tubuh kami membuat kami memutuskan untuk menunggu pagi dengan tidur di salah satu sudut ruangan. Team gw mencari posisi enak didepan mushalla wanita yang belum dibuka sebelum subuh. Sementara mereka tidur gw coba membaca lokasi dengan menyisiri semua area gedung. Bertanya pada petugas yang ada disana bagaimana menuju KL Sentral. Semua informasi gw rangkum sebelum gw memutuskan untuk ikut tidur menunggu pagi.
Berada di terminal senyaman ini rasanya kayak ada didalam bandara.  AC-nya itu loh sob dinginnya menusuk. Sebelum sempat tidur seorang pemuda menghentikan langkah gw untuk meminta tolong dicarikan Tunang-nya. Tunang yang kalo dalam bahasa kita itu ternyata adalah tunangan. Doi gak berani mengecek satu persatu wanita yang sedang tidur di dekat team gw. Takut entar salah paham katanya. Wajar aja sih di Malaysia kan masih sama kayak Aceh yang menerapkan budaya islam. Sepasang muda mudi gak boleh saling berdekatan kalo gak ada ikatan yang sah. Kecuali yang bandel. Pukul 4 pagi gw membantu seorang laki – laki mencari tunangannya. Hasilnya nihil soalnya dari semua wanita yang tidur gak ada seorang pun yang dikenali sebagai tunangannya. Meskipun doi memberikan gw foto 3 x 4 warna yang doi simpan didalam dompetnya untuk mengenali wajah tunangannya. Dari penuturannya doi ini udah janjian mau jemput tunangan di BTS. dan karena hp si tunang mati doi jadi gak bisa menemukan dimana keberadaan si tunang di dalam BTS yang luasnya 3 kali lipat RSUD Kab. Aceh Tamiang ini.
Konter tiket di Bandar Tasik Selatan


My team with spot nyamannya


Mushalla wanita di Bandar Tasik Selatan yang masih terkunci menjelang subuh


Gak tahu entah si pemuda itu udah menemukan tunangnya atau belu gw mutusin buat tidur aja karena jam 6 pagi masih 2 jam lagi sob.
Saat pagi menjelang , pintu mushalla disamping gw terbuka. Dan tampak beberapa wanita hilir mudik mengantri untuk shalat subuh. Temen – temen gw juga udah pada bangun. Habis bersih – bersih dikit kita lanjut ke tempat pembelian tiket Komuter Line menuju KL Sentral. Setelah dapat tiket kita cap cus nunggu kereta di platform bareng calon penumpang lainnya. Nyaman banget emang naik Komuter. 30 menit tiba di KL Sentral Kuala Lumpur. Kita pun lanjut ke Pasar Seni. 
Interior  Bandar Tasik Selatan


Gak sengaja nemuin ini pas jelang subuh sob


Disinilah kita semua berpisah. Richa, Emma & Mentary memutuskan untuk jalan – jalan dulu di Central Market. Karena gw masih punya 1 hari lagi di Kuala Lumpur jadinya gw mutusin buat langsung janjian ketemuan sama Teuku Giyas & kak Haziqah. Hari itu adalah hari kepulangan Emma & Mentary. Sementara Richa pulang besok harinya tapi doi gak mau gabung bareng gw dan milih nginep di hostel yang gak jauh dari Pasar Seni. Okelah kita berempat pisah. See guys ,, thanks a lot udah gabung di trip ini.

0 comments:

Post a Comment