Saturday, 9 May 2015

Suasana Religi di Velangkani with Couchsurfer Medan


Ransel Ijo +62 – Hei hei balik lagi nih mau cerita lagi. Bosan ya?? Hehehe gw juga bosan nulis tapi gak pernah bosan buat nge-share ini ke loe semua kok Jpeople. Oh ya sampe mana ya cerita gw kemarin. Oh ya tentang kereta api. Jadi tuh Jpeople gw , Akbar dan Ichsan ceritanya udah sampe di Stasiun Kereta Api Binjai yang bersebelahan sama Terminal Kota Binjai. Untuk menuju kota kita pun jalan kaki ke depan kira – kira 100 meter gitu lewat jalan motong dan nembus didepan Binjai Super Mall. Sampe situ kita makan siang dulu. Habis makan gw kontak Ressi, Couchsurfer Medan yang udah berbaik hati mau meluangkan waktunya buat gw buat mengexplore Gereja Velangkani Medan. Alasan kenapa gw milih Gereja Velangkani sebagai daftar tempat wisata yang mau gw datangi adalah karena gereja ini unik banget Jpeople. Mau tahu kayak apa uniknya sabaran entar gw certain ya. Setelah mengontak Ressi kami sepakat buat ketemu di Pajak Melati. Soalnya gw gak tahu dimana letak Gereja Velangkani . Kami memilih Pajak Melati sebagai meeting pointnya. Sebelum itu gw juga diberi tahu untuk naik angkot Binjai – Pinang Baris dan melanjutkan naik angkot P25 dan bilang turun di Pajak Melati. Kali ini informasi angkotnya jelas dan akurat Jpeople dan gak pake salah naik angkot lagi. Solanya infonya valid banget dari Couchsurfer Medan yang emang suka naik angkot di Medan. Nah ini dia nih yang dibilang Anak Medan. Mantablah !!
Perjalanan balik ke Medan gw tempuh dengan naik angkot jurusan Binjai – Pinang Baris Medan. Dan kita bertiga turun di SPBU Pinang Baris dan dilanjutkan dengan naik angkot P25. Didalam angkot terasa banget bataknya. Gw agak – agak takut gitu karena mereka ngomong pake logat batak yang cukup keras. Nah suasana naik angkot rame dan penuh ini membawa gw seakan kembali ke masa SMA dulu pas naik angkot yang nyaris penuh. Dan rasa simpati dan toleransi kita sebagai penumpang yang telah duduk didalamnya bener – bener di uji. Gimana kita bisa berbagi tempat duduk jika sekiranya deretan bangku yang kita dudukin masih menyisakan luang untuk didudukin sama penumpang yang mau naik. Tapi diangkot jurusan Pinang Baris -  Pajak Melati ini agak beda Jpeople. Gak tahu apa emang karakter orang Medannya yang gak mau ngalah atau emang kebetulan saat itu gw naik angkot yang penumpangnya egois semua kali ya jadi gak ada yang mau ngalah buat berbagi tempat duduk dengan penumpang lainnya yang mau naik. Gw Cuma bisa bengong doang ngelihat aksi cuek mereka. Belum lagi sempat terdengar umpatan kasar dari penumpang lainnya yang mengeluh dengan sempitnya tempat duduk dan gak mau mengalah untuk mau menggeser sedikit duduknya agar penumpang yang naik bisa duduk meski agak sempit. Antara takut, heran, dan berasa kayak gak lagi diatas angkot tapi kayak lagi lihat orang berantem gitu gw. Beberapa penumpang sempat ngobrol dengan temannya dan menyebut kata Velangkani. Tadinya gw pikir mungkin gw salah denger. Sampai beberapa saat kemudian angkot pun berhenti didepan gang yang banyak di lalui orang – orang yang berjalan kaki. Gw sempat ngelihat keluar jendela angkot sebuah papan nama dan gambar Gereja Velangkani dengan tanda panah yang mengarah ke gang yang gw lihat tadi. Buru – buru deh gw mengajak Akbar dan Ichsan untuk turun. Siap membayar ongkos angkot kami pun gak langsung masuk ke dalam gang. Melainkan gw mengontak Ressi dan minta maaf karena gak turun di tempat yang dijanjikan. Ressi bilang gak masalah dan doi bareng temennya pun menyusul kami yang udah menunggu di gang menuju Gereja Velangkani. .
Gak lama setelah itu tampak seorang wanita muda menyapa gw dan memperkenalkan dirinya sebagai Ressi. Yup foto profil yang doi pasang di Couchsurfiung gak jauh beda sama aslinya jadi gw gak begitu pangling. Doi membawa 2 temannya yang mana salah satu temannya mengenali gw sebagai Lia Caem. Kaget dong gw soalnya gw belum pernah ketemu. Usut punya usut ternyata temennya Ressi itu adalah Kak Eka Rina. Yup gw emang kenal Kak Eka Rina di facebook dan sering chatting bareng doi tapi gak pernah punya kesempatan buat ketemu. Ternyata Medan itu gak seluas yang gw kira. Buktinya gw dan Kak Eka Rina yang Cuma ketemu pas chatting di dumay bisa ketemu di dunia nyata secara gak gak sengaja lewat pertemuan gw dengan orang lain. Inilah yang disebut takdir, semua udah digariskan sama yang di Atas Jpeople.
Dan seorang lagi temam Ressi adalah Kak Diana yang belakangan gw tahu adalah Pemimpin Redaksi Majalah Melancong. Gw pernah baca Majalah Melancong pas ke PRSU tahun lalu bareng temen – temen Blogger Medan Community yang sekaeang udah gabung di Blog M (Blogger Medan).
Udah saling kenal kami semua jalan bareng kira – kira 200 meteran gitu menuju Gereja Velangkani. Sambil jalan kaki Ressi menjelaskan bahwa sebenarnya dia prihatin sama situs Couchsurfing khususnya forum Medan yang rata – rata gak terlalu merespon pertanyaan dan permintaan dari Couchsurfer Indonesia yang mau mengexplore kota Medan dan Sumatera Utara. Kebayakan dari Couchsurfer Medan lebih merespon Couchsurfer Luar Negeri yang ingin bertandang ke Medan dan Sumatera Utara. Dengan cepat mereka membalas pesan Couchsurfer Luar Negeri yang notabene adalah bule – bule. Gw sendiri pengguna Couchsurfing pun merasakan hal yang sama tapi Alhamdulillah Ressi mau membantu gw untuk bisa mengexplore salah satu tempat wisata di Medan. Dan dengan bantuannya ini merubah penilaian gw bahwa gak semua Couchsurfer Medan cuek terhadap permintaan couching Couchsurfer Indonesia. Thanks Ressi. Oh ya sebelumnya gw minta maaf karena gw baru tahu kalo Ressi itu usianya diatas gw dan gw dengan sok akrabnya manggil doi dengan sebutan nama doang. Maaf ya kak Ressi.
Sampai dipintu gerbang Gereja Velangkani kami di antar kak Ressi ke Aula pertemuan lantai 1. Satu per satu hiasan dinding gw perhatiin lekat – lekat. Gereja Velangkani sendiri punya nama lengkap Graha Bunda Maria Annai Velangkani. Gw sendiri takjub dengan keindahan gereja ini meskipun gw bukan penganut agama Kristen. Ekterior bangunan gereja secara keseluruhan tampak indah. Waktu gw kesan tuh kebetulan lagi ada acara. Yang datang berkunjung ke gereja ini pun sangat banyak. Dan lebih dominan pemeluk agama Kristen yang sekalian datang untuk beribadah dan berwisata religi.sebagian pengunjung yang datang sama kayak gw ada yang berhijab. Pengunjung yang datang gak tanggung – tanggung Jpeople, tampak wisatawan asing pun berkunjung kesini. Mereka yang datang umumnya adalah wisatawan yang dipandu oleh tour guide sebuah travel perjalanan yang diangkut menggunakan bus pariwisata.
Gereja Velangkani ini merupakan campuran dari budaya India. Jadi jangan heran sekilas gereja ini tampak seperti kuil. Dibuktikan dengan berdirinya bangunan menyerupai kuil di bagian paling atas dari gereja ini. Lalu dibagian tengahnya baru tampak ornament Kristen berupa jendela kaca yang membentuk salib dikedua sisi bangunan. Dan melingkarnya jembatan melengkung di kedua sisinya. Nah di jembatan inilah yang menjadi akses masuk ke dalam ruang ibadah umat Kristen khatolik. Dan dijembatan ini pula lah sepaasang muda mudi sedang melakukan sesi foto pre wedding ditengah ramainya pengunjung yang datang. Dari wajhanya udah bisa ketebak kalo mereka adalah pasangan keturunan India yang tinggal di Medan. Velangkani benar – benar menawarkan wisata sekaligus ibadah kepada para pengunjungnya terutama yang memeluk agama Kristen Khatolik.
Seorang teman dunia maya pernah berkomentar pedas bahwa gw ini gak sadar agama dengan berfoto disalah satu symbol agama tertentu. Gw piker kalo gw yang muslim dikatakan salah karena berfoto dengan latar belakang patung Dewi Laksmi di Shri Mariamman Temple Medan jadi apa bedanya buat mereka yang non muslim atau yang muslim sekalipun berfoto dengan latar belakang patung Budha di Candi Borobudur???
Kadang terlalu pintar memaknai agama sendiri bikin kita gak bisa menghargai agama orang lain dengan rasa toleransi yang tinggi. So…buat orang yang sudah mengkritik gw di facebook gara – gara aksi foto gw dengan patung Dewi Laksmi gw doain dibuka kan pintu pikirannya agar bisa berkomentar dengan pemikiran yang luas dan gak asal komen yang bisa bikin orang perang saudara. AMIN.
Thanks buat Couchsurfer Medan Kak Ressi, Kak Diana dan Kak Eka Rina yang udah mau nemenin kami bertiga untuk mengenal Gereja Velangkani. Disini bener – bener gw ngerasain sikap toleransi yang tinggi antar umat beragama. Sekali lagi makasih, ditunggu ya Kak Ressi dkk buat berkunjung ke Aceh Tamiang.
See you next trip guys..
Salam Ransel Ijo +62

0 komentar:

Post a Comment