Monday, 8 February 2016

Tinggal Bersama Couchsurfer KL



Ransel Ijo +62Hujan selalu ada ditiap perjalanan gw. Kayak trip gw ini. Selepas dari pasar malam jl.Tunku Abdul Rahman gw, kak Haziqah dan Tamina pulang bertemankan hujan yang semakin deras. Diperjalanan itu kak Haziqah sibuk menelpon operator kartu kredit & ATMnya untuk segera memblokirnya. Gak Cuma itu kak Haziqah juga menelpon ibu dan adeknya untuk mengabarkan kehilangan dompetnya. Perasaan kesal dan sedih semua bercampur – campur kayak es campur gak jadi diminum. Lelah melanda gak Cuma di sekujur tubuh kami tapi juga hati kami. Hujan terus jatuh dengan derasnya dan kami tiba di Shah Alam sekyen 5 tempat dimana rumah kak Haziqah berada. Sesampainya dirumah gw disambut hangat oleh ibu dan kedua adek kak Haziqah. Malam itu gw diantar menuju kamar. Dan gw sekamar dengan Tamina. Bahasa inggris gw yang gak terlalu lancar cukup dimengeri oleh Tamina. Sambil menunggu kak Haziqah masak. Gw mandi dan melanjutkan dengan shalat isya. Sementara Tamina udah shalat duluan dan bergegas ke dapur. Rumah kak Haziqah sangat nyaman. Rumah 2 lantai ini dihuni oleh kak Haziqah, ibu dan kedua adeknya. Sementara ayahnya sendiri sudah tidak lagi sob. Seorang adeknya menderita down syndrome. Melihat adeknya gw jadi teringat si Brekele gw. Suasana yang hangat membuat gw berasa kayak jadi bagian dari keluarga kak Haziqah. Suasana yang gak gw dapatkan kalo dirumah gw sendiri.
Malam itu gw, kak Haziqah & Tamina makan malam bersama. Sembari ditemani adeknya yang down syndrome kami mengobrol banyak hal tentang Malaysia & Indonesia. Kak Haziqah bercerita banyak soal perjalanannya ke Sumatera Utara beberapa waktu lalu. Yang menjadi topik hangat malam itu adalah ketika adek kak Haziqah yang nomer 2 bercerita kalo dia begitu menggandrungi music Ayu Tinting dan Cita Citata. Gw sendiri Cuma tahu Siti Nurhaliza. Lainnya gw gak kenal sob. Obrolan malam it uterus mengalir. Terkadang kak Haziqah harus bicara dengan menggunakan bahasa inggris untuk menjelaskan ke Tamina apa yang kami bicarakan. Malam semakin larut dan usai beres – beres didapur kami pun beranjak untuk tidur. Esok hari adalah hari kepulangan gw ke Indonesia. Karena penerbangan gw sore hari gw masih punya banyak waktu untuk jalan – jalan lagi barengan kak Haziqah & Tamina. Putrajaya menjadi tujuan utama kami.
Sampai dikamar gw dan Tamina belum bisa tidur. Kami mengobrol satu sama lain. Tentang ibunya yang pernah tinggal di Pekanbaru didaerah Sukajadi. Gak Cuma itu. Tamina juga bercerita tentang keinginannya untuk kembali melanjutkan studinya tapi doi butuh beasiswa. Doi berada cukup lama di Malaysia sebelum nantinya doi bakalan balik ke Jerman menjalani rutinitasnya sama kayak gw. Bekerja. Dan Traveling menjadi obat mujarab bagi pekerja kayak gw, Tamina & kak Haziqah.

2 comments:

  1. kalau yang disamping mu lia datang ke indonesia, bakalan di bully tu mbak bule na

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah kenapa jar?? karena busananya ya??

      Delete