Monday, 7 May 2018

Mengenang Sejarah Sembari Mengingat Kematian

Ransel Ijo +62 Ada kalanya jenuh datang menghampiri.  Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Macam – macam cara dilakukan untuk bisa menghilangkan kejenuhan itu. Gw sendiri adalah jenis orang yang gampang banget jenuh. Tiap hari rasanya pengen hal – hal baru terus terjadi biar hidup gak kaku. Apa Cuma gw aja yang ngerasa kayak gini? 
Pintu Gerbang Makam

Ratusan Batu Nisan

Belajar sejarah dari sebuah makam

Travelling. Sejak kenal travelling gw jadi ketagihan dan jadiin travelling sebagai pemusnah rasa jenuh yang ada. Meski pun gw Cuma bisa traveling setahun sekali tapi lumayan ampuh mengusir jenuh gw. Hari ketiga di Singapura gw kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini gw jalan bareng Tiro doang sementara M istirahat di hostel sampe siang karena kecapean jalan semalem. Katanya bakalan nyusul entar siangnya. Oke gapapa. Masih pagi dan semangat masih full. Gw sama Tiro lanjut trip menuju ke bagian Utara Singapura. Masih tetap mengunjungi spot antimainstream. Spot mainstream kali ini lebih edukatif. Dengan menempuh perjalanan 30 menit lamanya menggunakan MRT dari Bugis. Dilanjutkan dengan naik bus. Gw dan Tiro sampai disebuah pemakaman. Loh kenapa kita ke pemakanan? Kita bukan mau ziarah Jpeople. Kita Cuma mau mau berkunjung doang kok. Spot ini terletak gak jauh dari halte tempat kita turun. Tinggal jalan kaki aja buat bisa mencapai pintu gerbang makam. Sebuah pemakaman asri dan megah. Disinilah sebagian dari para pahlawan perang dunia dimakamkan. Ada banyak batu nisan berdiri sejajar tertata apik. Kami menyusuri setapak demi setapak jalan beralaskan rumput yang membelah 2 areal makam. Keduanya terletak disisi kiri dan kanan jalan yang kami lalui. Dari jauh terlihat gedung mirip kapal membentang.
Gw susuri satu per satu ruang terbuka yang ada di bawah atap gedung. Ditiap dinding yang berada di sisi dalam gedung terdapat nama – nama pahlawan yang wafat dan dimakamkan di pemakaman ini. Tiap nama terdapat kode khusus berupa huruf dan angka untuk menandakan letak batu nisan mereka masing – masing. Kayak nomor rumah gitu Jpeople. Jadi misalkan kamu mau menziarahi satu nama pahlawan maka cukup lihat di blok mana beliau dimakamkan. Setelah tahu dimana blok dan nomor makamnya maka kita bisa mencarinya diantara batu nisan yang juga tertera huruf dan nomor makam sesuai dengan yang tertulis di dinding gedung tadi. Pahlawan – pahlawan korban perang dunia ini berasal dari berbagai negara Jpeople. Ada dari Inggris, Malaysia, Singapura, China dan India. Semua bisa dibedakan dari bentuk tulisan yang dipahat di batu nisannya masing – masing. Suasana syahdu amat terasa.
Gw dan dan Tiro disebalik gedung

Gedung mirip Kapal

Diantara nama nama pahlawan yang dimakamkan

Deretan makam yang tenang

Gerbang masuk


Gw berada diantara banyaknya mereka yang udah damai di sisi Tuhan. Lama – lama disini gw kayak lagi mempersiapkan rumah masa depan abadi gw. Berlokasi jauh dari hiruk pikuk keramaian. Medan pemakaman dengan kontur tanah berbukit membuat ratusan batu nisan disini tersusun dengan damai dan tenang. Dengan 2 pohon rimbun yang terletak di sisi kiri dan kanan areal pemakaman. Seolah sengaja dibiarkan tumbuh untuk menemani jasad – jasad yang terkubur jauh dibawah tanah. Pagi itu gerimis menemani gw dan Tiro menelusuri satu per satu batu nisan yang kami gak kenal sama sekali. Di bukit ini mereka semua udah tenang dalam keabadian. Sementara gw gak tahu kapan bakalan kayak mereka. Jujur gw takut mati. Meski gak ada seorang pun yang bisa lari dari kematian. Karena kematian itu pasti. Dan pertanyaan pun muncul, sudah siapkah gw untuk mati? Jujur gw belum siap. Belum ada hal baik yang gw lakuin dalam hidup ini. Dosa – dosa gw masih terlalu banyak dan gw pengen banget hapusin dosa – dosa gw. Gw emang gak tahu kapan kematian bakalan menghampiri tapi gw selalu minta sama Allah SWT agar selalu memberi gw kesehatan dan umur panjang supaya gw bisa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian entar. Semoga kita semua bisa menemui ajal kita masing – masing dalam keadaan yang baik ya Jpeople. Amin. Salam Ransel Ijo +62

0 komentar:

Post a Comment